Ketika Waktu Terbuang Sia-Sia

Oleh Fessy Budiharjo

Sejak kaki menginjakkan untuk pertama kali di wohnung (rumah bersusun) ini, senang rasanya, tidak begitu besar memang tapi menurut saya cukup bagi kami bertiga saat itu. Letaknya pun strategis berada di tengah, didukung pula dengan sarana transportasi yang memadai, ya dekat dengan halte bis, U-Bahn (kereta bawah tanah), S-Bahn (kereta atas tanah). Alhamdulillah….

Dari ruang utama, saya bisa memandang lepas ke sebuah park (taman) yang di atasnya bertabur dengan batu- batu kerikil yang tersusun rapi, di tengahnya ada sebatang pohon besar yang kelihatannya sudah cukup tua tapi tetap kokoh berdiri di sana, di samping bawah terlihat rumah kecil semacam pondok, dan jika menoleh kekanan bawah ternyata ada tempat untuk pembuatan bir sekaligus barnya.

Dipertengahan musim semi ini, pohon itu telah bersolek lagi dengan warna daunnya yang hijau muda sehingga ranting-rantingnya yang berwarna gelap tertutup, juga beberapa orang mulai berteduh di bawahnya sekedar melepas lelah. Dan pondok kecil itu sudah mulai dibuka, dari sana perlahan-lahan dikeluarkan bangku-bangku dan meja-meja panjang berwarna oranye dan ditata melingkar mengelilingi pohon besar itu. Setelah kosong ternyata pondok itu dijadikan barnya, di mana orang-orang yang berkunjung ke taman itu bisa memesan makanan ringan semacam brexel(roti khas jerman yang rasanya gurih) dan minuman seperti bir atau cola.

Hari sudah sore, sekitar pukul empat pengunjung mulai berdatangan ke taman itu, ada yang sendiri ataupun berombongan, ehmm… sore ini cuaca memang lagi cerah, ramai sekali orang yang datang di bawah sana. Mereka datang, duduk, ngobrol, bersenda gurau sambil makan, dan minum…..lama sekali, kira-kira pukul tiga dini hari tempat itu baru ditutup. Apa yang mereka obrolkan sampai berjam-jam di sana ya? Bisik hati saya. Kelihatannya nikmat sekali hidup mereka, tidak ada waktu yang mengingatkan mereka untuk sholat, mengaji, menghafal ayat-ayat Allah…., apa mereka tidak merasa rugi dengan waktu yang terlewatkan begitu saja, seandainya saja mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanya mampir sebentar saja.

Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu yang lemah ini tetap beriman kepada-Mu, dan dapat mengisi tiap-tiap detik, menit, jam maupun hari-harinya dengan amalan kebajikan yang Engkau ridloi sampai akhir hayat.

Saya jadi teringat beberapa lirik lagu yang dinyanyikan almarhum Chrisye, yang disadur dari Qur’an Surat Yaa Siin ayat 65,

akan datang hari mulut dikunci kata tak ada lagi

akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita

berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya

berkata kaki kita, ke mana saja dia melangkahnya

tidak tahu kita bila harinya tanggung jawab tiba.

Subhanaallah…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s